Rabu, 19 Agustus 2009

CERITANYA MAU JALAN-JALAN NONTON MEW Part 1

Minggu pagi hari itu dalam lelapnya kenikmatan tidur, saya terbangun tiba-tiba karena handphone saya berbunyi keras sekali. Bunyinya memekakkan telinga hingga rasanya membuat jantung saya serasa mau copot karena kaget. Di handphone itu tertulis “akun.rain CALLING”, rupanya itu adalah telepon dari teman saya Raindra anak Jurusan Akuntansi UNPAR.


Saya sebenarnya telah lama mengenal dia, dia teman satu SMP saya. Tetapi akhirnya kami berjumpa lagi karena sebuah pertemuan di salah satu studio musik di Bandung. Kami bertemu pada sesi latihan bandnya Rain (panggilannya dia). Pada saat itu saya datang sebab bandnya yang bernama Autumn Ode sedang membutuhkan seorang drummer pengganti, karena Fuad sang drummer, tidak dapat ikut dalam sebuah event yang akan diisi oleh Autumn Ode beberapa pekan yang akan datang (dan ujung-ujungnya ga jadi, damn!) yaitu launching album sebuah band beraliran Trip-Hop asal Bandung, Everybody Loves Irene. Tanpa pikir panjang saya angkat telepon itu.
Saya: “Halo”
Rain:”Cong dimana?
Saya:”Iya ini mau berangkat” (padahal bohong, baru juga kebangun gara-gara teleponnya dia)
Rain:”Oh, ya udah”
Saya:”Sip!”
(Dan percakapan pun selesai)


ANJIS KESIANGAN DONG!
Teriak saya karena kaget.

Jam dinding sudah menunjukan pukul 06.30, padahal saya ada janji sama Rain jam segituan buat jemput dia. Hari itu kami berdua mau pergi ke acara festival musik terbesar dan pertama di Indonesia yaitu JAVA ROCKIN’ LAND. Buru-buru saya memakai baju bertulisan Stockholm berwarna biru, dan celana jeans ketat andalan saya (padahal saya belum mandi,hahahaha), habis itu masuk ke kamar mandi dan gosok gigi lalu ambil air segayung buat cucI muka biar enggak keliatan caludih (kucel dalam bahasa sunda), setelah itu baru pakai sepatu. Tiba-tiba “GRRRUK” suara gesekan pintu dan lantai kamar orang tua saya yang khas itu terdengar di telinga. “mau kemana kamu?” Tanya Ibu saya yang baru buka pintu. “ Ahhh, Udah bangun duluan euy”, dalam hati saya berkata.

Rencananya saat itu saya mau pergi diam-diam ke Jakarta karena ibu saya tidak mengizinkan saya untuk pergi karena takut anaknya ini kena bom, seperti Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton. Awalnya saya juga takut, cuman kemarin baru nonton Densus 88 menang perang-perangan sama Om Noordin (yang katanya sih gitu) jadi berani pergi, ditambah lagi yang mau nge-bom rumahnya SBY udah ketangkep beberapa waktu lalu tambah aja saya berani buat pergi, kalau gak pergi sayang ticketnya juga sih, soalnya saya pergi kesana buat nonton band asal Denmark, MEW. “Mmmau ke rumah temen ma”, (pasang muka tanpa dosa padahal emang mau ke rumah temen tapi udah itu pergi ke Jakarta, hehehehe).

“Ah bohong kamu! Mau ke Jakarta ya?”, Tanya Ibu saya karena anaknya ketauan bohong karena ngomongnya gelagapan. “iya deng mau ke Jakarta ,hehehehe” (malu udah ketauan). “Si Keke ikut gak?” Tanya ibu saya tentang pacar saya yang mau pergi ke tempat yang sama. “Ikut ma, tapi bareng rombongan temennya”. Mendengar kabar itu, Ibu saya tidak komentar banyak, lalu ibu saya masuk kedalam kamar dan bertanya lagi. “Kamu ada uang berapa?”, sambil mencari dompetnya dikamar. “Ada lah ma”,Jawab saya ragu-ragu karena gak enak buat minta duit, apalagi duitnya buat main dan seneng-seneng. “Ada berapa?”, Tanya ibu lagi. “Yaudah ma, minta dua puluh ribu aja deh” (dan tau nya jajanan disana mahal-mahal saya baru inget pas udah sampai disana tapi karena gak enak sama ibu saya ya apa boleh buat).

Ibu saya mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan. “Ini kalau ada kembalian balikin lagi ke mama ya!” Ibu berkata dengan wajah yang serius karena biasanya kalau saya dikasih uang lebih, kembaliannya suka gak ada kabar (hahahaha), (tulisan ini harus ditebelin biar inget terus). “Siap!”, dengan yakin saya jawab padahal ujung-ujungnya pasti duitnya habis. Segera setelah itu saya meluncur ke rumah Rain.


Sesampainya di rumah Rain, saya menunggu di depan halaman rumahnya. “In, udh di depan”, tulis saya dalam pesan singkat di handphone, Lalu dikirimlah pesan itu kepada Rain. Tiba-tiba ada sosok lelaki cungkring (Tinggi dan Kurus, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia) keluar dari rumah itu. Ternyata itu Rain. “Kalem cong!” dia berkata sambil memakai kain bandana hitam dikepalanya khas Arian13 yang vokalisnya band Seringai, padahal gak ada pantes-pantesnya dia pakai yang begituan, malah dia terlihat seperti pegawai proyek bangunan seperti tetangga sebelah rumah saya. Tak lama kemudian ia keluar rumah dengan memakai helm dan ransel di punggungnya. “Langsung ke si Fuad aja cong”, katanya. “oke”, jawab saya sambil menyalakan mesin motor dan tancap gas menuju rumah Fuad. Kami menuju rumah Fuad dengan maksud tujuan untuk nebeng mobilnya dia buat ke Jakarta, karena dia juga niatnya mau nonton acara yang sama.


Udara pagi itu dingin, tetapi tidak terlalu menusuk tulang. Gedebage saat itu sudah aktif karena waktu itu sudah menunjukkan jam nya ibu-ibu pergi ke pasar. Diperjalanan kami ngobrol-ngobrol tentang berita saya kecelakaan tabrakan dengan angkot, dua hari yang lalu.
“Itu maneh (kamu) tabrakan yang kemarin gimana?”,Tanya dia. “Ya gitu wee, gara-gara aing (saya) ngantuk” jawab saya sambil mengerem motor di perempatan Gedebage karena lampu stopan sedang merah. “Tapi aneh siah in, motor sayanya gak apa-apa in cuma lecet, justru si angkot bempernya penyok sama besi hiasan di bemper angkotnya mau patah. “Terus ngegantiinnya berapa?” Tanya Rain sambil memegang pegangan didekat jok motor, karena lampu stopan sudah hijau dan motor sudah waktunya maju lagi. “250 ribuan sih harusnya, Cuma ditawar jadi 200 ribu, itu udah semuanya beres termasuk besi yang patahnya itu”,jawab saya. Beberapa menit kemudian kami sudah sampai Rancabolang, dan obrolan pun masih berlanjut.


“Kemarin kata lanceuk urang (kakak saya) pas dia KKL (Kuliah Kerja Lapangan) temennya dia kesurupan siah cong”. “wanjir, ceritanya gimana?”,tanya saya penasaran. “Jadi itu ternyata gara-gara si jurig (hantu) yang ngerasukinnya bogoheun (naksir) sama temennya lanceuk urang itu. “Edan, parahlah tapi udah gak apa-apa kan sekarang?”, tanya saya lagi sambil membelokkan motor kearah jalan menuju rumah Fuad. “Udah, udah diusir sama kyai gitu”, jawab Rain sambil liat-liat kesana kemari.
Akhirnya kita sampai di rumah Fuad jam 07.05, tapi disana motor Riznan, teman kami yang janjinya datang jam 07.00 itu belum terlihat. “si inan belum datang euy”, kata saya. “Ah biasa si inan mah bos”,jawab Rain pendek sambil cengengesan benerin poni rambutnya yang katanya baru.


Di balik pintu pagar rumah Fuad, terlihat seorang lelaki paruh baya yang lebih tepatnya seorang bapak-bapak. Sosoknya berambut putih menandakan umurnya yang sudah tidak lagi muda, dan ia mengenakan kemeja coklat dan bercelana panjang blue jeans, perawakannya agak tinggi dan kurus, belakangan saya tau, bapak itu masih kerabat Fuad. Lelaki tersebut bertanya pada kami, “Mau ke Fuad ya?”. “iya om”, jawab Rain. “Sebentar ya”, lalu bapak itu memanggil Fuad. “Mas Fuad, mas, ini ada temennya nih!”. Tidak lama kemudian Fuad keluar, dan spontan ia bertanya pada kami. “Mana si Inan?” maksud dia Riznan. “Gatau, kirain udah duluan kesini”, jawab saya sambil memindahkan motor ke dekat tong sampah depan rumah Fuad. Lalu ia pun menjawab bahwa dari tadi juga ia belum melihat ada tanda-tanda si caplak sudah datang (panggilan akrab si inan).

Tukang kupat tahu pun melintas di hadapan kami pelan-pelan seolah memancing kami biar beli, lalu Fuad memanggilnya karena ia berniat untuk beli. “Mang, kupat tahu nya satu, eh kamu mau ga cong?”,Tanya Fuad. Tanpa ragu-ragu saya jawab karena belum sarapan,“Sok deh boleh”. “Yaudah mang jadi dua”, kata Fuad sambil memanggil gak tau kakaknya atau adiknya yang dipanggil buat ambil piring dua buah buat kupat tahu. Sambil nunggu tukang kupat tahu, kita lanjut ngobrol-ngobrol. “Si Inan dimana sih? Coba rada ditelepon fu”, (bahasanya anak jaman sekarang).
Lalu Ia menelpon saudara Riznan yang gak jelas lagi dimana. Setelah lima detik menunggu akhirnya telepon diangkat, dan ternyata si caplak baru bangun tidur. “Anjis baru bangun tidur lah!”,Fuad berkata. “wah baleg?” (wah yang bener?), Rain disitu agak bereaksi karena ia dan saya merasa ditipu oleh si inan. Akhirnya kita makan kupat tahu dan ujung-ujungnya kami ngomongin si Inan yang tidurnya susah dibangunin kayak orang mati.

Selesai makan kupat, Fuad bangkit dari tempat duduk, “cong, pinjem motor dong, mau beli pulsa dulu”. Setelah merogoh saku, saya kasih kunci itu ke Fuad. “Eh fu nitip beliin esia yang 5000 dong, ini duitnya, nomernya udah tau belum?” Tanya saya. “Nih udah ada”,jawab Fuad dan ia pun pergi menuju tukang pulsa sambil mengendarai motor saya.

Tiba-tiba ada seorang lelaki paruh baya lagi, tapi beda dengan yang sebelumnya. Ia mengenakan Polo Shirt warna hitam dan rambutnya yang tipis beruban. Ternyata itu Om Basuki, bapaknya Fuad. “Kalian mau ke Java Rockin’ Land, emang ada apa aja disana?”,Tanya bapaknya Fuad. “Ada band-band gitu om, tapi kesana niatnya mau nonton band asal Denmark gitu, namanya MEW”. “oo, itu om pinjem dong yang dikepala kamu”, kata si om. Ternyata si om mau pinjem bandana item punyanya si Rain. “Nih om”, lalu dipakailah bandana itu dikepala si om. “Bagus ga om pake ini?”,Tanya si om sambil bergaya di depan si Rain. “Wesss, udah kaya rocker om”,jawab rain dengan antusias, dan saya pun menahan tawa karena si om pake bandananya malah kaya iket kepala orang baduy. Lalu bandana itu dikembalikan lagi ke Rain.

Waktu menunjukkan pukul 08.25 dan si inan belum juga datang. Fuad yang baru kembali dari tukang pulsa, datang tanpa bawa motor. “Fu, motor mana?” Tanya saya bingung. “Itu udah di rumah sana”, sambil menunjuk kearah rumah satu lagi yang sedang di renovasi. “oo, kirain kemana” jawab saya dengan perasaan lega.

Sambil menunggu si Inan, kita naik ke mobil sambil beres-beres isi dalam mobil. “jadinya yang ikut mobil siapa aja fu?”, Tanya saya. “jadinya si Nando, Shendy, sama si Dendy terus ditambah kalian”, jawabnya. Tidak lama kemudian Si inan datang naik motor Honda Beat sambil cengengesan. “Anjir aing ketiduran lah”, kata si Inan sambil buka helm, dan memarkir motornya di sebelah mobil Innova nya fuad. Lalu dia naik mobil dan duduk di sebelah saya. “Aing didepan ah!” kata si Rain sambil keluar mobil dan membuka pintu depan.

Tiba-tiba Si Om memanggil Riznan. “Nan, Motornya om pinjem ya, mau cukur rambut”. Lalu Fuad menjawab sambil teriak. “Apaan yang mau dicukur, botak gitu!”, Tertawalah seisi mobil itu.
Setelah itu kami bergegas pergi untuk menjemput Nando di STSI.


BERSAMBUNG KE PART.2